Jumat, 14 Desember 2018

Peran Unsur Logam Transisi Zn sebagai Metaloenzim Karakter Logam Transisi Zn (Seng)

Unsur Zn

Unsur Zn atau biasa kita sebut dengan “seng” merupakan unsur logam transisi yang terletak pada golongan 12 atau IIB dengan nomor atom 30 pada tabel periodik.Karakter dari logam ini antara lainmemiliki warna putih kebiruan, rapuh pada kondisi normal, dan mudah dibentuk pada suhu 100-150oC. Seng memiliki titik lebur sebesar 460oC dan titik leleh sebesar 906oC. Logam ini bersifat diamagnetik, akan tetapi dapat mengalirkan listrik walaupun tidak sebaik tembaga. Zn berwarna merah saat terbakar pada suhu tinggi dengan evolusi awan putih oksida. Logam Zn banyak digunakan sebagai alloy atau campuran dari antar logam seperti kuningan, perunggu, dan lain-lain. Logam ini juga digunakan untuk penyepuhan logam-logam lain seperti pada besi untuk menghindari karatan. Dalam bentuk oksidanya, Zn banyak digunakan untuk pembuatan cat, kosmetik, tekstil, dan juga komponen listrik karena sifatnya yang koduktor elektrik.

Apa itu Metaloenzim?

Metaloenzim merupakan protein yang berfungsi sebagai enzim dan memerlukan ion logam sebagai kofaktornya. Ion logam disini merupakan bagian permanen dari enzim dan sebagai stabilisator supaya enzim tetap aktif. Selain itu, ion logam berfungsi sebagai pusat katalis primer dan sebagai tempat untuk mengikat substrat.
 

Peran Zn Sebagai Bagian dari Metaloenzim

Tahukah kamu, selain fungsi Zn sebagai alloy dan komponen listrik seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, ternyata Zn juga berperan penting dalam pertumbuhan manusia dan binatang loh. Zn merupakan salah satu logam essensial (karbonik anhidrase) yang digunakan dalam proses metabolisme tubuh. Kok bisa sih? Znini dapat menstimulasi aktivitas 100 macam enzim serta terlibat dalam kofaktor 200 jenis enzimlainnya.Zn terlibat dalam sejumlah besar enzim yang mengkatalisis reaksi metabolik pada karbohidrat, lemak, dan protein. Selain itu Zn juga berperan dalam sintesis DNA dan RNA, serta dalam pemecahan asam nukleat.

Zn akan berikatan dengan air (H2O) yang membuatnya cukup asam untuk melepas H+ (proton) dan membentuk senyawa Zn-OH. Zn berperan sebagai nukleofil terhadap substrat. Peran inilah yang menyebabkan Zn dapat bersatu dengan substrat dan digunakan oleh banyak enzim.

Bagaimana Jika Tubuh Kekurangan atau Kelebihan Seng?

Seng tersebar dalam tubuh manusia sebanyak 2 – 2,5 mg. Kandungan terbesarnya terletak pada hati, tulang, otot, dan pankreas. Organ-organ yang juga memiliki kandungan seng yakni mata, kulit,kuku, dan rambut. Di dalam plasma darah, terkandung 0,1 % dari keseluruhan Zn dalam tubuh.
Defisiensi atau kekurangan seng akan menyebabkan sirkulasi seng dalam tubuh terhambat dari pankreas ke saluran pencernaan, sehingga kondisi tersebut akan menyebabkan penurunan ketajaman indra rasa (lidah) dan akan menurunkan nafsu makan. Kekurangan seng dalam tubuh juga menyebabkan kekerdilan, pembengkakanhati dan ginjal, serta menyebabkan anemia. Sedangkan kelebihan seng dapat menimbulkan arterosklerosis. Pada dosis lebih dari 2 gram meyebabkan muntah, demam, dan diare serta keracunan.Wah, bahaya juga ya.

Agar tubuh terhindar dari bahaya-bahaya tadi, kita harus mengonsumsi makanan-makanan yang mengandung seng dan makanan bergizi lainnya. Kebutuhan akan seng yang dianjurkan bagi tubuh adalah 3-5 mg/hari untuk balita, 10 mg/hari untuk anak-anak, dan 15 mg/hari bagi orang dewasa. Ada penambahan 5 mg/hari untuk ibu hamil dan 10 mg/hari untuk ibu menyusui.Sumber bahan makanan seng terdapat pada daging, ikan, ayam, telur, kerang, juga kacang-kacangan.
Nah, dari penjelasan di atas kita tahu bahwa Zn merupakan salah satu unsur yang sangat penting bagi tubuh. Jadi jangan lupa untuk mencukupi kebutuhan Zn dalam tubuh ya.. Jangan lupa juga untuk istirahat yang cukup dan olahraga yang teratur. Semoga artikel ini bermanfaat.


Daftar Pustaka
Almatsier, S. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia, Jakarta.
Darmono. 1995. Logam dalam Sistem Biologi Makhluk Hidup. Jakarta : Universitas Indonesia (UI-Press),
Pudjiadi, Solihin. 2001. Ilmu Gizi Klinis pada Anak. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
http://duniacyberwina.blogspot.com/2014/09/metaloenzim-i.html
https://www.wikipedia.org/