Tampilkan postingan dengan label kesetimbangan kimia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesetimbangan kimia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 April 2018

LARUTAN ENCER IDEAL

LARUTAN ENCER IDEAL

Assalamu’alaikum warahmatulahi wabarakaatuh

Sebelum kita membahas mengenai larutan encer ideal pertama-tama kita akan membahas sedikit tentang larutan. Larutan adalah suatu campuran homogen yang terdiri dari zat terlarut dan pelarut. Zat terlarut disini dapat berupa cair, padat atau gas. Pada zat terlarut dan pelarut tidak dapat dibedakan secara langsung dalam suatu larutan karena umumnya ukuran penyusun partikel hampir sama, baik dalam bentuk ion atau molekul lebih dari dua zat. Biasanya jumlah suatu pelarut (solvent) dalam larutan lebih banyak dibandingkan jumlah dari zat terlarut (solute). Berbicara mengenai larutan, latutan sendiri dapat dibagi menjadi dua yakni larutan ideal yang menggunakan hukum Raoult dan larutan non ideal yang bertentangan dengan hukum Raoult. 

A.) Larutan Ideal

Untuk larutan ideal merupakan larutan yang memiliki gaya tarik antar molekul atau bisa disebut dengan gaya intermolekul pada molekul yang sama jenisnya sehingga dapat dikatakan bahwa gaya kohesi sama dengan gaya adhesi. Salah satu sifat dari larutan ideal adalah sifat fisikanya hampir sama dengan sifat fisika penyusunnya dan volume larutan sama dengan volume penyusunnya. Sehingga misalkan terdapat larutan antara zat X dan Y yang sifatnya ideal, maka gaya antarmolekul antara molekul X dan Y sama dengan gaya tarik antar molekul X dengan X ataupun Y dengan Y.

Menurut Syukri (1999), berpendapat bahwa larutan ideal seluruhnya mengikuti komponen dari pelarut dan solute yang mengikuti hukum Raoult terhadap semua selang konsentrasi. Dengan bunyi hukumnya adalah tekanan uap larutan ideal dipengaruhi dengan tekanan uap pelarut dan fraksi mol dari solute yang terkandung pada suatu larutan tersebut. 

Sehingga pada saat kesetimbangan diperoleh persamaan sebagai berikut (Atkins, 1996) :

               (1)

                                 (2)

Persamaan hukum Raoult sendiri diperoleh dengan mensubstitusikan persamaan (2) sebagai fraksi mol terhadap persamaan (1) sebagai berikut (Atkins, 1996) :

(3)

Persamaan (3) diatas dapat dibalik dan digunakan sebagai definisilarutan ideal sehingga persamaan tersebut menunjukkan hukum Raoult, bukannya berasal dari hukum itu. Sehingga, definisi dari persamaan ini lebih baik dari persamaan (2) karena tidak adanya asumsi bahwa gas itu ideal. Walaupun beberapa larutan menyimpang dari hukum Raoult, namun dapat digunakan jika komponen pelarut berlebih sehingga mendekati kemurnian. Jadi bisa dikatakan bahwa hukum tersebut menerangkan tentang pendekatan yang baik untuk pelarut dengan larutan encer dan hanya dapat dicapai jika komponen-komponen tersebut memiliki kemiripan pada sifat-sifatnya (Atkins, 1996). 

B.) Larutan Tidak Ideal

Larutan tidak ideal bisa menjelaskan penyimpangan positif dengan tekanan uap lebih tinggi dibandingkan prediksi hukum Raoult atau penyimpangan negatif yang tekanan uapnya lebih rendah. Pada suatu molekul penyimpangan negatif terbentuk pada saat zat terlarut menarik molekul pelarut dengan sangat kuat, sehingga mengurangi kemampuannya untuk pindah ke fase uap. Penyimpangan positif terbentuk pada kasus kebalikkannya yakni molekul pelarut dan zat terlarut sama-sama tidak tertarik satu sama lain (Oxtoby, 2001).

Pada penyimpangan positif hukum Raoult dapat terjadi dikarenakan adanya gaya tarik molekul terlarut dan molekul pelarut dalam larutan itu lebih kecil dibandingkan dengan gaya tarik antar molekul terlarut atau antar molekul pelarut murninya. Dihasilkan masing-masing tekanan uap parsial di atas larutan lebih besar dari hukum Raoult dan tekanan total dari suatu larutan menjadi lebih besar dari yang diinginkan.

Sebaliknya penyimpangan negatif pada hukum Raoult terjadi dikarenakan gaya tarik antara zat terlarut dengan pelarut lebih besar dibanding gaya tarik antara zat terlarut-terlarut dan pelarut dengan sesama pelarut. Akibatnya tekanan parsial di atas larutan lebih kecil dari hukum Raoult, maka tekanan uap totalnya lebih kecil dari yang diinginkan.



Gambar 1

Berdasarkan grafik diatas dapat dijelaskan bahwa jika suatu komponen mendekati kemurnian, komponen tersebut sesuai pada hukum Raoult dan memiliki tekanan uap yang sebanding dengan fraksi mol, dengan kemiringan kurvanya adalah . Namun jika komponen tersebut minoritas (zat terlarut), tekanan uapnya sebanding dengan fraksi molnya, tetapi tetapan perbandingan adalah K, dimana hal tersebut termasuk ke dalam hukum Henry (Atkins, 1996).

Sehingga didapatkan persamaan sebagai berikut (Atkins, 1996) :

(4)

Dari persamaan tersebut diketahui bahwa  adalah fraksi mol zat terlarut dan  adalah konstanta yang dipilih agar grafik tekanan uap B terhadap fraksi molnya merupakan garis singgung kurva eksperimen pada  (gambar 1). Campuran tersebut sesuai dengan hukum Henry dengan sifat yang ideal, dimana berbeda dengan campuran pada hukum Raoult, campuran ini biasa disebut sebagai larutan encer ideal. Sehingga pada rentang komposisi, zat pelarut mentaati hukum Raoult, sedangkan zat terlarut mentaati hukum Henry (Atkins, 1996).

Menurut Petrucci (1987) pada larutan encer tidak mempunyai interaksi kimia diantara komponen-komponennya, hukum Raoult hanya berlaku bagi pelarut, baik ideal maupun tidak ideal. Namun hukum Raoult tidak berlaku terhadap larutan tidak ideal encer. Perbedaan ini bersumber pada molekul-molekul pelarut yang begitu banyak. Hal ini menyebabkan lingkungan molekul sangat berbeda dalam lingkungan pelarut murni. Sehingga zat terlarut dalam larutan tidak ideal encer mengikuti hukum Henry.

Sumber :
Atkins, P.W. 1996. Kimia Fisika Jilid 1 Edisi 4. Jakarta: Erlangga
Oxtoby. 2001. Prinsip-prinsip Kimia Modern jilid 1. Jakarta: Erlangga
Petrucci, R. H. 1987. Kimia Dasar Jilid 2. Jakarta: Erlangga

(Muhammad Faisal Risdianto, 16630060)

x
Diagram Fasa 3 Komponen

Diagram Fasa 3 Komponen

 Suatu sistem terdiri dari fasa dan komponen. Fasa adalah keadaan asli suatu zat, baik dari segi sifat kimia hingga sifat fisiknya. Sedangkan komponen adalah wujud suatu sistem, bisa berupa padat, cair, dan gas. Dalam satu sistem terdapat satu komponen atau lebih, dimana jumlah komponen dinyatakan dengan C. Begitu pula dengan fasa, banyaknya fasa dinotasikan dengan P.
Pada sistem tiga-komponen dinyatakan derajat kebebasan dengan F = 3 – P + 2 = 5 – P (apabila tekanan dan suhu dibuat tetap). Sistem komponen tunggal menggambarkan sistemnya secara sempurna dengan dua derajat kebebasan, untuk komponen dua fasa dengan satu derajat kebebasan. Sedangkan sistem tiga-komponen menggambarkan keadaan sistemnya dengan dua derajat kebebasan yaitu temperature dan tekanan yang dibuat tetap dan fraksi kedua komponen sebagai peubah. Fraksi mol sistem tiga-komponen (C=3) dari sistem Terner adalah, xA + xB + xC = 1.
    Diagram untuk satu fasa dan dua fasa dapat digambarkan dalam satu bidang. Sedangkan untuk menggambarkan diagram tiga-fasa dapat menggunakan grafik segitiga sama sisi, seperti pada gambar 1.1. Konsentrasi dinyatakan sebagai % berat atau fraksi mol. Titik nol dimulai dari a,b,c, dengan A,B,C menyatakan komposisi adalah 100% atau 0. Jadi garis Aa, Bb, dan Cc menunjukkan komposisi konsentrasi komponen A, B, dan C (sisi AB bersesuaian dengan  xC, sisi AC bersesuaian dengan xB, dan sisi BC bersesuaian dengan xA). Titik dalam diagram tersebut bersesuaian dengan sistem dari ketiga zatnya. Misalnya, titik V, menunjukkan xA = 0.8; xB = 0.2; dan xC = 0.7.


Daftar Pustaka :
Atkins, P.W. 1996. Kimia Fisika. Jakarta: Erlangga.
Dogra, S.K. 1990. Kimia Fisika dan Soal-soal. Jakarta: UI-PRESS.
Triyono. 2013. Kesetimbangan Kimia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Diagram Fasa Oksigen

Diagram Fasa Oksigen

Fasa merupakan suatu bentuk zat, yang mana zat itu dibedakan menjadi zat padat, cair dan gas. Ketiga fasa tersebut diketahui bisa mencapai kesetimbangan melalui diagram fasa. Perlu diketahui bahwa diagram fasa itu sendiri adalah suatu grafik yang didalamnya menunjukkan kondisi kesetimbangan antara ketiga fasa (padat, cair dan gas) pada suatu zat yang dipengaruhi oleh suhu(T) dan tekanan(P).

Dibawah ini merupakan salah satu contoh dari diagram fasa, disini saya memakai diagram fasa oksigen.
Gambar 1.1 Diagram Oksigen

Dari diagram oksigen tersebut, kita dapat mengetahui pada suhu dan tekanan berapakah ketiga fasa mengalami kesetimbangan. Dalam diagram tersebut juga memperlihatkan istilah S, L, G TP dan CP. S menunjukkan bahwa ia dalam keadaan solid (padat), L menunjukkan bahwa ia dalam keadaan liquid (cair) dan G menunjukkan bahwa ia dalam keadaan gas. Sedangkan TP (triple point ) disitu merupakan tempat bertemunya ketiga fasa yaitu padat, cair dan gaspada suhu dan tekanan tertentu. CP (critical point) menunjukkan bahwa kerapatan cairan sama dengan kerapatan uapnya.

Berikut adalah cara membaca diagram fasa oksigen dari grafik tersebut :
Titik kesetimbangan (TP) terjadi pada suhu -219ºC dan tekanan 0,0015 atm
Titik kritis (CP) terjadi pada suhu -119ºC dan tekanan 50 atm
Untuk mengubah fasa padat ke gas, bisa langsung mengubahnya tanpa melewati fasa liquid terlebih dahulu yang membutuhkan tekanan dibawah 0,0015 atm dan suhu dibawah -219ºC
Untuk mengubah fasa padat ke liquid  membutuhkan tekanan diatas 0,0015 atm  dan suhu diatas -219ºC
Untuk mengubah fasa liquid ke gas membutuhkan tekanan diatas 0,0015 atm dan suhu antara -219ºC  ̶   -119ºC
Jika suhunya konstan maka tekanannya dinaikkan.

Referensi 
Atkins.P.W.1993.Kimia Fisika Jilid 1 Edisi Keempat.Jakarta:Erlangga
Fasa, Komponen dan Derajat Kebebasan

Fasa, Komponen dan Derajat Kebebasan

1.      Fasa

Fasa merupakan bagian materi dari suatu sistem yang memiliki kesamaan diseluruh bagiannya baik dalam hal sifat-sifat fisika dan komposisi kimia. Bagian ini mampu dibedakan dari bagian materi yang lain dalam suatu sistem. Fasa dapat dipisahkan secara mekanik. Fasa yang sudah lama dikenal yakni fasa padat, cair dan gas. Banyaknya fasa dalam suatu sistem dinotasikan dengan huruf P. Dengan istilah lain P merupakan jumlah bagian-bagian yang seragam atau homogen dalam suatu sistem. Contohnya ;

a.       Kristal, gas atau campuran Gas, dan dua cairan yang dapat bercampur secara keseluruhan merupakan fase tunggal (P=1).

b.      Campuran es dan air, air ditambahkan alkohol dan uapnya, campuran logam-logam yang tidak dapat bercampur, merupakan dua fase (P=2)

c.       Air ditambahkan minyak dan uapnya, merupakan tiga fase (P=3)

d.      Susu, santan, pembersih muka, merupakan banyak fasa (P=banyak)

Dispersi merupakan kesamaan pada skala makroskopik, namun tidak sama pada sekala mikroskopik, karena dispersi hanya terdiri atas butiran atau tetesan komponen yang berada didalam matriks komponen yang lainnya. Dispersi adalah hal yang penting karena terdapat banyak material tingkat tinggi seperti baja yang memiliki mekanisme perlakuan panas digunakan untuk mendapatkan pengendapan dispersi halus komponen atau partikel-partikel dari satu fase di dalam suatu matrik yang berasal dari fase larutan padat jenuh. Penyesuaian sifat mekanik material pada sebuah pemakaian dapat ditentukan dari kemungkinan kemampuan mengontrol struktur mikro yang dihasilkan oleh kesetimbangan fase.



2.      Jumlah Komponen

Komponen sistem merupakan unsur maupun senyawa yang menyusun suatu sistem. Sedangkan jumlah komponen adalah jumlah terkecil spesies-spesies kimia bebas yang dibutuhkan untuk menyatakan komposisi semua fase yang terdapat dalam sistem. Hal tersebut mudah dilakukan apabila spesies kimia yang terdapat dalam sistem tidak mampu bereaksi, sehingga yang perlu dihitung hanya banyaknya saja. Contohnya  sistem air murni merupakan satu komponen (C=1) sedangkan campuran air dan etanol adalah dua komponen (C=2).

Jika terdapat suatu spesies bereaksi dalam keadaan setimbang, maka semua fase didalamnya harus diperhatikan. Misalnya Amonium Klorida yang setimbang dengan uapnya

NH4Cl(s)  è NH3(g)  + HCl(g)

Sistem tersebut memiliki satu komponen, dan kedua fase mempunyai komposisi formal NH4Cl. Apabila ditambahkan HCl(g) , sistem akan memiliki dua komponen karena setelah penambahan tersebut jumlah NH3 dan  HCl  tidak tetap atau berubah-ubah. Sedangkan pada Kalsium Karbonat juga setimbang dengan uapnya :

CaCO3(s) è CaO(s) + CO2(g)

sistem yang memiliki dua komponen karena komposisi uap pada CaCO3 tidak digambarkan.



3.      Derajat Kebebasan

Derajat kebebasan adalah suatu keadaan setimbang yang merupakan jumlah variabel intensif yang dibutuhkan untuk menggambarkan keadaan suatu sistem tersebut. Masa atau besar setiap fasa tidak mempengaruhi kesetimbangan fasa, karena kesetimbangan fasa hanya dipengaruhi oleh keseragaman potensial kimia, dimana merupakan variabel intensif independen. Misalnya, terdapat sistem yang terdiri dari dua fasa yaitu larutan AgBr dan padatan AgBr pada temperatur dan tekanan tertentu. Kesetimbangan Agbr yang larut tidak tergantung pada massa dari fasa, sedikit banyaknya larutan atau padatan AgBr tidak diperhatikan, asalkan kedua fasa tersebut dalam keadaan setimbang dalam larutan memiliki nilai tertentu pada temperatur dan tekanan tertentu. Variabel intensif seperti tekanan, temperatur dan komposisi (fraksi mol) perlu ditinjau dalam kesetimbangan fasa. Banyaknya variabel intensif independen inilah yang diperlukan untuk menggambarkan keadaan suatu sistem yang disebut derajat kebebasan suatu sistem.



Referensi :

Atkins, P.W. 1996. Kimia Fisika Jilid 1 edisi keempat. Jakarta: Erlangga.

Barrow, Gordon M. 1983. Physical Chemistry. Tokyo: Mc Graw Hill International Book Company

Levine, Ira N. 1983. Physical Chemstry. New York: Mc Graw Hill Book Company
Tekanan Uap di Atas Permukaan Lengkung

Tekanan Uap di Atas Permukaan Lengkung

Tekanan Uap di Atas Permukaan Lengkung
Tekanan uap merupakan suatu zat yang dinyatakan mudah menguap dikarenakan oleh kekuatan gaya antar molekulnya.Jika gaya molekulnya semakin lemah maka senyawa itu akan semakin mudah untuk menguap. Pada saat suhu rendah molekul molekul zat akan meninggalkan permukaan dari cairan dan membenuk kesetimbangan dengan cairan lainya. Molekul-molekul fasa uap tersebut menimbulkan tekanan yang mana dapat dikatakan sebagai tekanan uap.
Permukaan pada zat cair memiliki sifat yang ingin meregang, oleh karena itu permukaannya seakan tertutupi oleh sesuatu yang elastis. Hal ini dikarenakan adanya gaya magnetik antar partikel yang sejenis di dalam zat cair hingga ke permukaan. Pada saat kondisi di dalam cairan, tiap molekul akan ditarik oleh molekul lain yang sejenis dengan gaya yang sama ke segala arah. Pada kondisi di permukaan cairan, molekul ditarik oleh molekul sejenis didekatnya ke arah samping dan kebawah saja, tetapi molekul tidak ditarik oleh molekul diatasnya. Hal ini dikarenakan molekul diatas  permukaan cairan berupa fase uap ( udara ). Ini disebabkan oleh jarak antara tiap molekul sangatlah renggang. gaya atau tarikan yang menuju bawah permukaan cairan mengalami kontraksi dan berada dalam keadaan tegang. Dalam transformasi fisika zat murni, permukaan cairan berhubungan dengan sifat fase-fase murni. Salah satunya adalah tekanan uap yang bergantung pada lengkungan permukaan. Yang mana terdapat pada gelembung, rongga, dan tetesan.

Gelembung, Rongga, dan Tetesan

            Gelembung adalah daerah di mana uap terperangkap di dalam lapisan tipis; rongga adalah lobang berisi uap di dalam cairan. Oleh karena itu, gelembung yang berada di dalam cairan sebenarnya adalah rongga. Karena gelembung yang sebenarnya memiliki dua permukaan yang mana satu permukaan nya terdapat pada di setiap sisi lapisan tipis. Tetesan merupakan volume kecil dari suatu cairan yang berada dalam kesetimbangan dan dikelilingi oleh uapnya (atkins,1996)
Rongga di dalam suatu cairan terjadi kesetimbangan jika penurunan luas permukaan cenderung diimbangi dengan kenaikan tekanan yang dihasilkan. Jika tekanan pada rongga sama dengan Pin dan r merupakan jari jari. Gaya keluarnya adalah = 4π r2 Pin. Gaya ke dalamnya yaitu jumlah tekanan luar Pout  dan tegangan permukaan. Perubahan luas permukaan bila jari-jari r menjadi r +dr adalah  (Atkins, 1996 ) :

dσ = 4π(r + dr)2 – 4πr2 = 8πr dr

kerja yang dilakukan bila permukaan diperluas sebesar itu. Maka :

dw = 8πγr dr

karena gaya dikali jarak adalah kerja, maka gaya lawan dari perluasan sejauh dr dan jari jari r adalah :

F = 8πγr

Jika gaya keluar sama dengan gaya ke dalam, maka :

4πr2pin = 4πr2pout + 8πγr

Maka dapat disusun ulang menjadi persamaan Laplace :

Pin = Pout + 2γ/r

Pengintian
            Pembentukan awan ada 2 proses penyebabnya. Yang pertama yaitu banyaknya molekul-molekul yang menjadi satu membentuk tetesan yang besar, sehingga efek evaporsi yang meningkat tidaklah berarti. Kemungkinan membentuk pusat pengintian spontan sangat kecil, dan pada pembentukan hujan bukan mekanisme yang paling utama. Proses terpenting bergantung pada partikel debu. Partikel ini mengintikan pengembunan dengan menyediakan permukaan untuk menempelnya molekul-molekul air. Pada lingkungan bersih, campuran uap air dan udara yang lewat jenuh tidak terjadi pengembunan, tetapi jika partikel dasar diionkan dan bergerak cepat, ion ion yang terbentuk pada jalan tersebut mengintikan pengembunan dan jalanya dipetakan menjadi lintasan embun  (atkins,1996)


Refrensi :
Atkins, P.W. 1996. Kimia Fisikajilid 1” edisi keempat. Jakarta : Erlangga


NAMA : BAGAS FEBRIANTO (16630053)
Aktivitas Pelarut dan Zat Terlarut

Aktivitas Pelarut dan Zat Terlarut




       Di dalam ilmu kimia, sering kita dengar pelarut dan zat terlarut. Sebenarnya, apa sih pelarut dan zat terlarut itu? Dan bagaimana aktivitas keduanya dalam kesetimbangan kimia?.  Menurut Underwood (1994), Istilah pelarut atau solvent merupakan zat yang mempunyai komposisi yang lebih besar dari larutan, lebih dari 50% dalam suatu larutan, sedangkan untuk zat terlarut adalah zat yang mempunyai komposisi terkecil dari larutan. Zat terlarut akan mempengaruhi konsentrasi dari larutan. Berikut penjelasan dari aktivitas pelarut dan zat terlarut dalam kesetimbangan kimia.

a. Aktivitas pelarut
Untuk menentukan potensial kimia dari zat terlarut atau pelarut dapat dihitung dari persamaan:


        Dengan keterangan P*A yang menyatakan tekanan uap dari A murni dalam bentuk pelarut dan PA merupakan tekanan uap dalam bentuk larutan. Pada larutan ideal bagi pelarut dan zat terlarut yang memenuhi hukum Raoult di semua konsentrasi dan kita dapat menuliskan persamaannya sebagai berikut (Atkins,1996):

       Dengan keadaan standar pelarut dan zat terlarut adalah cairan murni (tekanan 1 bar), kemudian diperoleh jika  XA = 1. Jika larutan tidak memenuhi hukum Raoult, kita dapat menuliskan persamaannya sebagai berikut (Atkins,1996):


aA merupakan aktivitas A, sejenis fraksi mol efektif seperti fugasitas adalah suatu tekanan efekif. Dari persamaan-persamaan diatas, diperoleh penyederhanaan sebagai


Karena semua pelarut memenuhi hukum Raoult. Jika konsentrasi zat terlarut yang mendekati nilai nol maka aktivitas pelarut yang mendekati fraksi mol ketika XA → 1:
 
 ketika 

Seperti pada gas nyata, cara untuk mengetahui larutan ideal melalui koefisien aktivitas ϒ dengan persamaan:

   ketika

Dari persamaan diatas, kita bisa menentukan potensial kimia pelarut adalah:


   
b. Aktivitas zat terlarut
        Dalam penentuan koefisien aktivitas dan keadaan standar untuk  zat terlarut memiliki masalah,  yang terjadi pada perilaku encer ideal (hukum Henry) di dalam konsentrasi rendah, bukan ketika  XB → 1. Penyusunan definisi dari zat terlarut yang mentaati hukum Henry dapat menunjukkan bagaimana cara mengatasi penyimpangan-penyimpangan yang terjadi (Fatimah, 2015):

1. Zat terlarut encer ideal.
       Pada zat terlarut B yang memenuhi hukum Henry mempunyai tekanan uap sebagai konstanta empiris. Persamaan dalam potensial kimia B dinyatakan sebagai berikut:


                                     

KB dan P*B merupakan sifat khas dari zat terlarut. Selanjutnya, suku pertama digabungkan dengan suhu kedua yang menghasilkan potensial kimia yang baru, ditulis dengan μϮB

dengan 

2. Zat terlarut nyata
        Untuk aktivitas pelarut, dengan cara memasukkan aB sebagai pengganti xB  ke hukum Henry sehingga memperoleh persamaan:
        Pada tahap terakhir, keadaan standar tetap konstan, semua penyimpangan dari keidelan ditampung pada aktivitas aB. Besar aktivitas pada semua konsentrasi dapat diperoleh dengan persamaan:
Untuk menentukan koefisien aktivitas dengan persamaan:


Jika zat terlarut memenuhi hukum Henry dan konsentrasinya menuju nol, maka:

 dan ketika

                                                                       
Penyimpangan zat terlarut dari keidealan hilang saat konsentrasi nol, namun pelarut penyimpangan hilang saat ketika mendekati kemurnian.

3. Aktivitas berkenaan dengan molalitas
        Komposisi campuran sering dinyatakan sebagai molalitas m, pengganti dari fraksi mol. Langkah awal diperhatikan bahwa pada larutan encer, jumlah dari pelarut lebih besar daripada jumlah zat terlarut (nB << nA), sehingga untuk pendekatan yang baik xB = nB/nA. Karena nB sebanding dengan molalitas mB, kita dapat menuliskan perbandingannya sebagai berikut (Fatimah,2015):

k adalah konstanta dan mo dimasukkan supaya sisi sebelah kanan tidak berdimensi. Oleh karena itu, untuk larutan encer ideal. Sekarang untuk menentukan persamaan potensial yang baru dengan menggabungkan ln k dan μ:

Kemungkinan kita bisa menuliskan persamaan dari molalitasnya:
       Potensial kimia zat terlarut memiliki keadaan standar μoB, jika molalitas B sama dengan mo. Untuk mengatasi penyimpangan, kita bisa memasukkan penyimpangan dari keidelan dengan mengenalkan aktivitas tidak berdimensi aB. Koefisien aktivitas yang tidak berdimensi ϒB dan menuliskannya:

 ketika


     Keadaan standar yang tidak berubah, sama seperti sebelumnya, semua penyimpangan dari keidelan ditampung di dalam koefisien aktivitas ϒB. Maka dapat diringkas untuk potensial kimia zat terlarut nyata pada segala molalitas. 
        Perlu bagi kita untuk mengetahui keadaan larutan keadaan nyata dan aktivitas untuk menentukan potensial kimia larutan tersebut. Hukum Raoult dan hukum Henry menjadi dasar untuk memenuhi penyimpangan-penyimpangan untuk menentukan potensial kimia berdasarkan fraksi mol suatu senyawa dalam pelarut maupun zat terlarut serta konstanta empirisnya.

Sumber: 
Atkins, P.W. 1996. Kimia Fisika Jilid 1 Edisi 4. Jakarta: Erlangga
Fatimah, Is. 2015. Kimia Fisika. Sleman: Deepublish
Underwood, L dan R.A Day. 1994.Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga
(Ririn Lailatul Fitriani, 16630067)