SIFAT KOLIGATIF LARUTAN
(Hasan Ali M – 16630062)
Sifat koligatif merupakan sifat yang didasarkan pada tingkat konsentrasi dari larutan. Empat sifat koligatif larutan antara lain: penurunan titik beku, kenaikan titik didih, penurunan tekanan uap, dan tekanan osmosis. Dalam beberapa buku penurunan tekanan uap tidak dicantumkan dan diganti dengan kelarutan (solubiliti). Semua sifat koligatif didapatkan dari penurunan nilai potensial kimia pelarut cair sebagai akibat dari hadirnya zat terlarut.
a. Penurunan Titik Beku

Jika zat padat terlarut yang larut dalam pelarut, tapi tidak larut dalam pelarut padat. Bisa kita asumsikan bahwa pelarut padat murni berada pada kesetimbangan dengan larutan cair yang mengandung zat terlarut encer. Saat kesetimbangan,
μ1(liq) = μ1*(solid) .................................................................................................(1)
Kita asumsikan bahwa larutan cukup encer sehingga memenuhi persamaan
μ1*(liq) + RTln(x1) = μ1*(solid)..............................................................................(2)
Dimana x1 adalah fraksi mol dari pelarut dalam larutan. Dengan aturan fase Gibbs ada dua variabel intensif independen. Jika tekanan dan suhu sedang dipilih untuk menjadi variabel independen, fraksi mol dari pelarut dalam fase cair adalah variabel dependen.
Kita bisa menurunkan persamaan (2), kemudian menerapkan hubungan termodinamika dan mengintegrasikannya. Kita bagi dengan T dan kemudian diturunkan dengan T pada P konstan :

Dengan menggunakan hubungan termodinamika

Dimasukkan ke persamaan (3) menjadi

Dimana ∆fusH*m,1 adalah perubahan entalpi penggabungan dari pelrut murni.
Kesetimbangan temperatur akan lebih rendah dibanding temperatur pembekuan pelarut murni. Kita kalikan persamaan (5) dengan dT dan diintegralkan kedua sisi pada persamaan tersebut dengan interval dari temperatur leleh normal pelarut murni Tm,1 ke temperatur lebih rendah T’.





.....................(8)

di mana kita mengabaikan superskrip utama (‘) pada T. Persamaan ini akurat hanya untuk larutan encer, dalam hal ini T diperkirakan sama dengan Tm,1. Kita ganti T dengan Tm, 1 di penyebut dari persamaan (8):

di mana kita menggunakan simbol ∆Tf untuk Tm,1 - T, penurunan titik beku.
Persamaan (9) sering ditulis ulang dalam hal molalitas, menggunakan persamaan (10) untuk menghubungkan dengan molalitas dan fraksi mol untuk larutan encer:

Dimana M1 adalah masa molar dari pelarut (kg)

Dimana m2 adalah molalitas dari terlarut. Kf,1 inilah yang disebut sebagai konstanta penurunan titik beku untuk pelarut spesifik.

Konstanta penurunan titik beku Kf,1 memiliki nilai yang berbeda pada tiap pelarut.
b. Kenaikan Titik Didih

Jika pelarut volatil dan pelarut non volatil dalam sebuah larutan yang berada pada kesetimbangan dengan pelarut gas dengan P konstan, maka kita bisa mengasumsikan bahwa fasa gas dianggap sebagai gas ideal dan pelarut bertindak seolah-olah ideal. Fakta mendasar dari fasa kesetimbangannya adalah

Dimana x1 adalah fraksi mol dari pelarut di fasa cair. Gunakan persamaan (4) sehingga

Dimana ∆vapH*m.1 adalah perubahan molar entalpi dari penguapan pelarut murni. Kemudian persamaan tersebut dikali dengan dT dan diintegralkan dari Tb,1, temperatur normal pendidihan ke temperatur yang lebih tinggi, T’. Perubahaan entalpi penguapan mendekati konstan, sehingga integrasinya menjadi (analog dengan persamaan (7)) :

Dan bisa disederhanakan menjadi,

Dimana ∆Tb = T – Tb.
Ketika persamaan (15) terpecahkan untuk kenaikan titik didih dan ditulis persamaannya. Maka hasilnya analog dengan persamaan (10) :

Konstanta kenaikan titik didihnya adalah

Besar konstanta ini berbeda pada tiap pelarut, tapi tidak bergantung pada identitas dari zat terlarutnya. Jika lebih dari satu zat terlarut yang ada, molalitas m2 diganti dengan jumlah dari keseluruhan molalitas zat terlarut.
c. Penurunan Tekanan Uap
Untuk zat terlarut nonvolatil dan pelarut volatil yang mematuhi aturan Raoult, total tekanan uap adalah sama dengan tekanan uap dari si pelarut :

Dimana P*1,vap adalah tekanan uap dari pelarut murni dan x1 adalah fraksi mol dari pelarut dalam fasa cair. Penurunan tekanan uap bisa ditulis dengan

d.
Tekanan Osmosis

Sifat koligatif ini melibatkan kesetimbangan antara larutan cair dan larutan cair murni pada sisi yang berlawanan dari membran semipermeable yang bisa dilewati hanya untuk mencapai kesetimbangan. Kesetimbangan tercapai ketika tekanan dari dua fasa adalah berbeda. Gambar 1.2 menunjukkan contoh osmometer sederhana, bagian kiri dari osmometer ini terisi dengan zat terlarut yang larut dalam pelarut, dan sebelah kanan berisi pelarut murni. Tekanan dari larutan naik keatas melebihi pelarut murni karena gaya gravitasi (hidrostatik) pada larutan yang ada di kolom sebelah kiri.



jika volume molar dari cair murni mendekati ketidak terikatan pada tekanan,

Yang mana

Dari persamaan diatas, untuk larutan encer dari dua komponen bisa ditulis

Dan kita bisa menulis bahwa

Dari kedua persamaan itu bisa dibuat sebuah persamaan

Dimana c2 adalah konsentrasi molar dari zat terlarut. Persamaan (23) dikenal sebagai persamaan van’t Hoff. Persamaan ini mirip dengan keadaan persamaan gas ideal
DAFTAR PUSTAKA
Mortimer, Robert G., 2008. Physical Chemistry Third Edition. London : Elsevier
Atkins, Peter dan Julio de Paula. 2014. Physical Chemistry Tenth Edition. New York : W. H. Freeman and Company