Jumat, 14 Desember 2018

Pemanfaatan Vanadium Sebagai Bahan Bakar Mobil

Sejarah Vanadium

Vanadium pertama kali ditemukan oleh Andres Manuel del Rio pada tahun 1801 dalam bijih timbel yang disebut eritronium dan menyangka bahwa vanadium adalah logam krom tidak murni. Namun pernyataan itu dibantah oleh seorang ahli kimia Perancis yang menyatakan pernyataan Del Rio tersebut salah, dan Del Rio pun menyangka bahawa dirinya salah dan menyetujui pernyataan itu. Kemudian pada tahun 1830 unsur ini kembali ditemukan di Swedia oleh Nils Gabriel Selfstrom, beliau menemukannya bersama-sama di dalam bijih besi. Kemudian Selfstrom menamakan unsur tersebut dengan nama Vanadium, yang berasal dari kata Vanadis seorang dewi kecantikan asal Skandinavia. Logam tersebut dinamakan seperti itu karena senyawaannya yang kaya akan warna yang menjadikannya cantik. Vanadium merupakan unsur yang paling banyak terdapat (0,02 % kerak bumi) dan ditemukan beberapa macam bijih. Salah satu bijih yang penting secara komersil ialah V 2O5, dan bijjih yang paling kompleks. Metalurgi vanadium tidak sederhana, tetapi vanadium murni (99,9 %) dapat dihasilkan. Dalam penggunaannya vadium dibentuk sebagai logam campuran besi-vanadium, ferrovanadium mengandung 35% - 95% V.
Vanadium yang ditemukan oleh Andrés Manuel del Rio pada tahun 1801, kini menjadi bahan yang sudah sangat terkenal di kalangan ilmuan-ilmuan cemerlang. Vanadium sendiri sebenarnya memiliki sifat sedikit radioaktif dan berbahaya karena beracun. Namun Stuart Licht dan kawan-kawan di Universitas Massachusetts, Boston, USA, kali ini membuat inovasi terbaru dengan menemukan sel bahan bakar baru yang dapat mengurangi penggunaan energi listrik pada kendaraan bernama vanadium borida-udara. Dan menurut Stuart Licht sel tersebut memiliki sepuluh kali lebih kuat dari baterai-baterai ion lithium dan tiga kali lebih padat dibanding baterai-baterai zink-udara.

Pemanfaatan Vanadium Sebagai Bahan Bakar Mobil

            Perusahaan GM(General Motors) bernama “Volt” pada tahun 2010 akan meluncurkan kendaraan-kendaraan baru yang menggunakan baterai ion. Kendaraanya tersebut bisa digunakan untuk 40 mil atau sekitar 64 km sebelum baterai lithium tersebut harus diisi ulang.
Di lain pihak Licht dengan sel vanadium borida-udara tersebut berinisiatif untuk membuat kendaraan-kendaraan bertenaga listrik dengan jarak tempuh yang tidak terbatas dan tidak harus sering isi baterai. Karena apabila kendaraan buatan GM yang terkenal irit dapat menempuh sekitar 64 km sebelum habis isi ulang, kendaraan dengan sel vanadium borida-udara temuan Litch mampu sepuluh kali lebih kuat atau sekitar 640 km. Cara mengisi bahan bakar pun terbilang cukup praktis dengan singgah di tempat pengisian bahan bakar dan mendapatkan bahan bakar segar lalu bisa digunakan dengan jarak tempuh yang mereka anggap tidak terbatas, walaupun masih mendapat tantangan dalam cara praktis pengisian ulang baterai tersebut menurut Peter Bruce.
Dengan membaca artikel tersebut kita setidaknya mendapatkan motivasi untuk maju khusunya dalam penggunaan bahan bakar yang semakin sedikit di bumi kita ini. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Sekian terima kasih.

Daftar Pustaka
  1. Dieter Rehder, Bioinorganic Vanadium Chemistry, 2008, Wiley, p2
  2. Ariosto Aguilar Mandujano, Andres Manuel del Rio, Educator
  3. B. Smith Hopkins, Chemistry of the Rarer Elements, 1923, D.C. Heath and Company, p205
  4. J.W. Mellor, A Comprehensive Treatise on Inorganic and Theoretical Chemistry, Volume IX, 1929, Longmans, Green and Co., p714
  5. Sydney Marks, A Text-book of Inorganic Chemistry Volume VI. Part III., 1929, Charles Griffin & Company Limited, p12
  6. Per Enghag, Encyclopedia of the Elements: Technical Data – History – Processing – Applications, 2008, John Wiley & Sons, p542
  7. François Cardarelli, Materials Handbook: A Concise Desktop Reference, 2008, Springer, p342