Selasa, 14 Maret 2023

Laporan Praktikum Penggunaan Piranti Lunak Komputer Dalam Kimia Organik : Menggamnar Striktur Senyawa Organik

 Tujuan pada praktikum ini adalah

1. mampu mengoperasikan progam Arguslab untuk menggambar struktur senyawa organic, baik secara manual maupun aplikasi konversi.

2. mampu mengetahui kerapatan, keelektronegatifan dan energi final SCF.

Dari percobaan parktikum yang dilakukan didapatkan data sebagai berikut:




Pembahasan

Senyawa benzena mempunyai rumus molekul C6H6, dan termasuk dalam golongan senyawa hidrokarbon aromatik. Nama aromatik digunakan karena senyawa tersebut berbau harum.dari rumus molekulnya dapat diketahui bahwa benzena merupakan senyawa tidak jenuh karena tidak memenuhi rumus CnH2n+2.Bila dibandingkan dengan senyawa hidrokarbon lain yang mengandung 6 buah atom karbon, misalnya heksana (C6H14) dan sikloheksana (C6H12), maka dapat diduga bahwa benzena mempunyai derajat ketidakjenuhan yang tinggi. Dengan dasar dugaan tersebut maka dapat diperkirakan bahwa benzena memiliki ciri-ciri khas seperti yang dimiliki oleh alkena.Perkiraan tersebut ternyata jauh berbeda dengan kenyataannya, karena benzena tidak dapat bereaksi seperti alkena (adisi, oksidasi, dan reduksi).Lebih khusus lagi benzena tidak dapat bereaksi dengan HBr, dan pereaksi-pereaksi lain yang lazimnya dapat bereaksi dengan alkena.Sifat-sifat kimia yang diperlihatkan oleh benzena memberi petunjuk bahwa senyawa tersebut memang tidak segolongan dengan alkena ataupun sikloalkena. Senyawa benzena dan sejumlah turunannya digolongkan dalam senyawa aromatik, Penggolongan ini dahulu semata-mata dilandasi oleh aroma yang dimiliki sebagian dari senyawa-senyawa tersebut. Perkembangan kimia pada tahap berikutnya menyadarkan para kimiawan bahwa klasifikasi senyawa kimia haruslah berdasarkan struktur dan kereaktifannya, dan bukan atas dasar sifat fisikanya.Saat ini istilah aromatik masih dipertahankan, tetapi mengacu pada fakta bahwa semua senyawa aromatik derajat ketidakjenuhannya tinggi dan stabil bila berhadapan dengan pereaksi yang menyerang ikatan pi (π) (Septiawan, 2012).

Sikloheksana mengadopsi, bentuk tiga dimensi strain-free yang disebut konformasi kursi karena kesamaannya dengan kursi . Konformasi kursi sikloheksana memiliki baik sudut regangan maupun sudut torsi yang dimana sudut ikatan pada C-C-C adalah sebesar 109,5 °, dan semua ikatan C-H disekitarnya adalah staggered. Selain konformasi kursi, juga terdapat konformasi alternatif pada sikloheksana yang disebut konformasi perahu terpilin. Bagaimanapun konformasi ini memiliki steric strain dan torsional strain sekitar 23 kJ / mol (5,5 kkal / mol) yang dimana energinya lebih tinggi dengan konformasi kursi. Akibatnya, molekul yang memiliki konformasi perahu terpilin hanya ada dalam keadaan khusus (Amrullah, 2016).

Dari hasil percobaan didapat nilai dari energi final SCF pada senyawa Benzene adalah

Final SCF Energy =  -31.2772479129 au

Final SCF Energy =     -19626.7871 kcal/mol

Sedangkan pada senyawa Sikloheksana energinya adalah

Final SCF Energy =  -34.4987907083 au

Final SCF Energy =     -21648.3375 kcal/mol

Dari nilai diatas benzene memiliki nilai SCF lebih besar dari pada nilai SCF pada senyawa sikloheksana. Kerapatan dari kedua senyawa tersebut ditunjukkan dari warna yang ditampilkan pada aplikasi Arguslab. Dalam gambar bahwa benzene dan sikloheksana memiliki warna biru, merah muda, dan putih. Tetapi dari benzene memiliki warna biru muda pada pusat aromatiknya. Hal ini yang membedakan kerapatan dari kedua senyawa.. warna biru muda pada benzene menyababkan kerapatannya rendah, dan warna biru muda ini juga menunjukkan bahwa benzene lebih elektronegatif dari sikloheksena yang hanya memiliki warna biru tua. Karena jika dibandingkan dengan dengan warna merah muda dan putih, warna biru memiliki keelektronegatifan yang paling tinggi. Nilai keelektronegatifan ini berbanding terbalik dengan kerapatan suatu senyawa, semakin elektronegatif kerapatan senyawa akan berkurang dan sebaliknya.

Kesimpulan

Dari percobaan yang telah dilakukan didapat gambar senyawa benzene dan senyawa sikloheksana, dapat disimpulkan bahwa benzene lebih elektronegatif dibandingkan dengan sikloheksana. Sedangkan kerapatan kebalika dari keelektronegatifan yaitu benzene lebih kecil kerapatannya dibanding sikloheksana diketahui dari warna yang ditampilkan pada argulab. Energi SCF benzene lebih besar dari energi SCF sikloheksana. Benzene : Final SCF Energy =  -31.2772479129 au atau Final SCF Energy =     -19626.7871 kcal/mol dan Sikloheksana : Final SCF Energy =  -34.4987907083 au atau Final SCF Energy =     -21648.3375 kcal/mol.

Daftar Pustaka

Amrullah, 2016. Analisis Sikloheksana. Yogyakarta: Jurusan Kima FMIPA UGM

Septiawan,Hendri. 2012. Prarancangan Pabrik Nitrobenzen dari Benzen dan Asam Nitrat dengan Proses Beazzi.Jurnal Teknik Kimia UMS.1(1):1-16.